Bapepam-LK Berencana Wajibkan Kepemilikan Akses Bagi Investor
Badan PengawasPAsar Modal Dan Lembaga Keuagan (Bapepam-LK) berencana untuk mewajibkan bagi para investor untuk memiliki kartu Acuan Kepemilikan Sekuritas (Akses) pada 2011. Disampaikaj oleh Kepala Biro Transaksi Dan Lembaga Efek Bapepam-LK yakni Nurhaida bahwa, saat ini Bapepam-LK belum mewajibkan kepemilikan Karu Akses. Namun menjelang pemberlakuan Single Identity (SID), kemungkinan kepemilikan Akses akan mulai diwajibkan bagi para investor. Saat ini, pihaknya masih memperbaiki infrastruktur dan sistem di pasar modal untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan di pasar modal. Perlu diketahui bahwa saat ini Bapepam-LK tengah meminta kepada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melakukan sosialisasi mengenai program Akses kepada media massa maupun secara langsung kepada para investor. Pihaknya juga masih melakukan kajian, apakah kewajiban tersebut nantinya akan dibuatkan aturan baru atau disisipkan ke dalam aturan yang berhubungan dengan kewajiban administrasi investor dalam membuka rekening di perusahaan efek. Saat ini dari lebihdari 300 ribu jumlah investor yang ada, baru terdapat sekira 11 ribu jumlah pengguna Akses.
Medco Tamankan Dana US$400 Untuk Pembangunan Kilang Minyak Di Libya
PT Medco Energi International Tbk (MEDC) akan menanamkan dana sebesar US$ 400 juta untuk pelaksanaan pembangunan kilang minyak bumi di libia. Total nilai proyek ini mencapai US$ 800 juta. Disampaikan oleh Presiden Komisaris Medco Hilmi Panigoro bahwa penggarapan proyek tersebut tinggal menunggu persetujuan dari pemerintah setempat, dalam proyek ini Medco akan bekerja sama dengan Libya bersama Libyan Investment Authority (LIA) dengan kepemilikan masing-masing 50 persen. Mengenai kemungkinan pendanaan internal, Medco telah mencadangkan dana untuk investasi di Libya yang sumbernya dana merupakan fasilitas reservable landing. setelah penandatanganan Join Venture antara anak usaha perseroan yaitu PT Medco International Ventures Limited dengan LIA, maka perseroan siap melakukan tahap pembangunan di bulan Maret 2010. Perseroan memperkirakan kilang tersebut akan menghasilkan sampai dengan 50 ribu barel per hari. Tidak hanya Libia, Medco juga tengah menjajaki kilang di Yaman dimana Medco memiliki bagian kerjasama sebanyak 45 persen.
Setoran Dividen BUMN Tambang Diturunkan Jadi 35 Persen
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menurunkan nilai setoran Dividen BUMN di sektor pertambangan menjadi 35 persen. Besarnya nilai setoran dividen ini akan diambil atas pencapai laba bersih tahun 2009. Sebelumnya perusahaan tambang BUMNmenyetorkan dividen sekitar 50 sampai dengan 65 persen. Namun, toleransi tersebut hanya diberikan dengan satu syarat BUMN tersebut harus bisa meningkatkan investasinya tahun ini. Saat ini kementerian belum menentukan BUMN mana yang akan diberikan keringanan setoran dividen. Namun, untuk industri pertambangan masih prospektif jika memperoleh tambahan modal cukup besar.Disampaikan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar bahwa pengurangan setoran dividen tersebut diharapkan bisa membantu pemenuhan belanja modal atau capital expenditure/capex BUMN tahun ini, terutama BUMN yang memerlukan dana untuk menyelesaikan beberapa proyek. Seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk mereka perlu menambah angkutan batubara dengan railway, ada juga rencana pembangunan pelabuhan altrnatif transportasi. Jadi PTBA ini salah satu yang mendaftar untuk menambah capex. Perlu diketahui bahwa pemerintah merupakan pemegang saham mayoritas di tiga perusahaan tambang publik yaitu Bukit Asam, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk. Ketiga perusahaan itu selama ini menyetor dividen sebesar 50 persen.
OCBC Berencana Terbitkan Obligasi Subdebt Kuartal II-2010
PT OCBC NISP Tbk (NISP) berencana untuk menerbitkan obligasi subordinasi atau subdebt sebesar Rp 600 miliar pada kuartal II-2010. Sampai dengan saat ini perseroan tengah melakukan seleksi untuk menentukan penjamin emisi atau underwriter untuk penerbitan obligasi subordinari atau subdebt. Disampaikan oleh Direktur Utama OCBC NISP Parwati Surjaudaja, selepas MoU Pemberian Beasiswa di Universitas Paramadina bahwa, perseroan berencana untuk menerbitkan subdebt pada kuartal II-2010. Walaupun posisi CAR perseroan masih 18 persen, tapi kami mau ekspansi kredit di tahun ini sebesar 20-30 persen, sehingga posisi CAR perseroan akan tergerus. Dengan ekspansi kredit sebesar 20-30 persen, CAR perseroan bakal tergerus menjadi 15 persen. Namun dari penerbitan subdebt tersebut, lanjut Parwati, pihaknya ingin meningkatkan CAR menjadi 17 persen. Apalagi dengan mempertimbangkan risiko operasional, CAR perseroan justru tergerus menjadi 12 persen. Nilai obligasi yang akan diterbitkan nilai surat utang yang akan diterbitkan mencapai Rp 600 miliar. Namun, angka tersebut masih disesuaikan dengan kondisi pasar dan berpotensi naik.
Indika Dapatkan Pinjaman Untuk Biayai PLTU Di Cirebon
PT Indika Infrastruktur Investindo dan Indika Power Investments Pte.Ltd. selaku anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) telah melakukan transaksi dengan Mizuho Corporate Bank Ltd sebagai agen dari pemberi pinjaman yang antara lain, Japan Bank for International Cooperation dan the Export-Import Bank of Korea sebagai jaminan atas kewajiban yang harus dipenuhi PT Cirebon Elektric Power yang merupakan perusahaan asosiasi dari Perseroan melalui Indika Infrastruktur dan Indika Power kepada pemberi pinjaman. CEP merupakan anak usaha INDY dengan kepemilikan tidak langsung sebesar 20 persen melalui anak-anak usahanya yaitu Indika Power Investments Pte. Ltd (IPI) yang memiliki saham di CEP sebesar 15 persen dan PT Indika Infrastruktur Investindo (III) sebesar 5 persen. Selain Indika Energy, terdapat 3 pihak lain yang juga turut memiliki saham di CEP, yakni Axia Power Holdings B.V dengan porsi kepemilikan saham sebesar 32,5 persen, Komipo Global Pte. Ltd sebesar 27,5 persen dan Cirebon Power Holdings Co. Ltd sebesar 20 persen. Penandatangan perjanjian pinjaman telah dilakukan pada 8 Maret 2010. Pinjaman ini akan digunakan untuk membiayai pembangunan dan modal kerja proyek pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 1 X 660 MW yang terletak di Desa Kanci, Cirebon. Perseroan menjaminkan seluruh kepemilikan sahamnya dalam Indika Power (perjanjian gadai saham Indika Power), juga menandatangani perjanjian dukungan ekuitas termasuk penjaminan berupa seluruh kepemilikan saham masing-masing Indika Infrastruktur dan Indika Power dalam Cirebon Elektric Power dan dalam PT Cirebon Power Services yang merupakan operator dari proyek PLTU 660 MW kepada pemberi pinjaman diman penjaminan terhadap saham-saham Cirebon Elektric Power dan Cirebon Power Services yang dimiliki Indika Infrastruktur dan Indika Power diberikan berdasarkan perjanjian gadai saham berdasar hukum Indonesia dan akan dikuatkan dengan share pledge agreements berdasarkan hukum New York, AS yang akan ditandatangani, Perjanjian Gadai Saham Cirebon Elektric Power dan Cirebon Power Services serta Perjanjian Pengalihan Hak atas Pinjaman Pemegang Saham.